Burung Gagak dan Ibunya

 

Seekor gagak muda mencuri sepotong roti dari rumah Pak Tani dan membawanya pulang. Alih-alih menasihatinya, ibu gagak malah mengepakkan sayapnya dengan senang dan memujinya sebagai anak yang baik, karena membawa pulang makanan untuk ibunya yang telah bekerja keras.

"Kamu anak pintar, Nak!" serunya. "Ibu bangga padamu. Lain kali kamu harus membawa pulang daging, atau sesuatu yang lebih berharga, seperti sendok perak atau cincin."

Bahagia karena kata kata pujian ibunya, burung gagak muda itu kemudian mulai mengambil barang lain dengan sungguh-sungguh. Tidak berapa lama dia sudah membawa pulang banyak sekali pisau, garpu, cincin, peniti emas, dan barang barang kecil lain sehingga keluarganya bisa saja membuka sebuah toko. Ibunya berkaok dengan senang dan memberitahukan semua kawan-kawannya, sungguh memalukan anak mereka tidak sepintar anaknya.

Setelah beberapa bulan lamanya, gagak muda yang selalu sibuk itu bosan mencuri dari orang-orang. Hal itu terlalu mudah baginya, sehingga tidak menyenangkan lagi. Ia lalu mencuri di sarang burung yang lain, lagipula ibunya masih selalu bilang padanya bahwa ia ada burung yang terbaik yang pernah ditetaskan seekor gagak. Perbuatannya itu berbahaya sekali, dan ia harus lebih cerdik. Tetapi pikirnya, bagaimana burung lamban seperti jalak atau bahkan elang bisa menangkapnya?

Tapi, ternyata itulah yang terjadi. Dia tertangkap basah, dan dua ekor burung elang yang galak menjaganya untuk dihukum.

Tentunya kamu harus mengerti, bahwa mencuri dari burung yang lain adalah kejahatan berat!

Setengah burung penduduk hutan berkumpul pagi itu untuk menentukan nasibnya. Walaupun para burung gagak membelanya dengan usaha keras, mereka tidak bisa menyelamatkannya dari hukuman. Akhirnya ia minta satu permintaan, yaitu untuk bisa berbicara pada ibunya. Tidak ada yang bisa menolak permintaan yang menyentuh itu, dan semua burung di hutan itu terdiam menyaksikan ia dan ibunya berdiri berdampingan.

Kemudian..., tanpa basa basi, gagak muda itu mencakari dan mematuki ibunya dengan kasar sampai burung lain dengan ketakutan memisahkan mereka. Akhirnya dengan babak belur, si gagak muda itu berhasil meyakinkan mereka untuk mendengarkannya.

"Kalian pikir aku adalah makhluk yang jahat dan kasar," dia bilang. "Dan mungkin memang itulah aku. Tetapi kesalahan bukan semua milikku. Aku tidak akan berada di sini sekarang jika ibuku mengajariku untuk berbuat baik. Malah, ia meyakinkanku bahwa perbuatanku itu adalah perbuatan baik. Jika kalian adil, kalian akan menghukumnya juga. Itulah perkataanku. Sekarang lakukan yang kalian mau!"

Tentu saja pidato gagak muda itu tidak meringankan hukumannya walaupun semua yang dikatakannya itu benar. Mereka kemudian mengikatnya di sebuah pohon elm, sebagai contoh bagi semua burung yang ingin mencuri dari sesamanya. 

Terjemah bebas dari : The Crow and His Mother, Richards Topical Encyclopedia. 1951

Pesan dari cerita ini adalah : perilaku kita dipengaruhi oleh lingkungan sekitar kita, terutama lingkungan terdekat yaitu keluarga. Didiklah anak dengan contoh dan perkataan yang mulia oleh orangtua.

Singa dan Kambing

Si kambing tua berjalan mondar-mandir mengenakan kulit singa yang dia temukan. Dia sangat bangga melihat domba-domba berlarian ketakutan ke padang rumput, tupai dan bajing berlompatan naik ke dahan paling tinggi sambil mengoceh marah. Bahkan rubah bersembunyi di lubang persembunyiannya, matanya yang bulat menatapnya dengan curiga.
"Mereka semua tertipu!" kata si kambing terkekeh-kekeh. Dia berjalan kian kemari dengan senang. Betapa pintarnya ia, pikirnya.
Tetapi tiba-tiba ada kegemparan di hutan dan seekor singa gagah melangkah ke tepi hutan. Untuk beberapa saat, si raja hutan mengamati kelakuan si kambing tua itu, yang masih berjalan dengan berlagak, merasa sangat bangga dengan kepintarannya. Dia tidak menyadari siapa yang sekarang ada di belakangnya.
Sang singa mendengus keras, rahangnya yang besar menganga lebar. Giginya tajam berkilauan. Lalu ia mengaum seperti halilintar.
Kambing tua itu melompat kaget menjatuhkan pakaian singanya lalu lari terbirit-birit ke dalam hutan. Semua binatang kecil tertawa terbahak-bahak. Singa palsu itu tidak menakutkan mereka lagi ketika singa yang asli hadir.         
Pesan dari cerita ini adalah : tidak ada hal yang baik jika kita meniru-niru orang lain, apalagi untuk menipu dan menindas yang lebih kecil. Jadilah diri sendiri, yang asli tentu lebih baik daripada yang pura-pura.

Terjemah bebas dari : The Lion and the Goat, Richards Topical Encyclopedia. 1951

Sumber : fasabbih.blogspot.com

Rubah yang Kehilangan Ekor

Siang hari itu seekor rubah muda berjalan-jalan di hutan tanpa tujuan ketika tiba-tiba ekornya terjepit perangkap besi. Trap! Dia mencoba melepaskan ekornya, tapi semakin ia mencoba, semakin kuat perangkap itu menjepit ekornya.
Hari sudah hampir malam, dan dia merasa mendengar suara anjing pemburu di kejauhan. Semakin lama, semakin yakin ia mendengar suara anjing, dan dia tahu bahwa pemburu sedang mendekat untuk melihat hasil tangkapan perangkap yang ia pasang.
Si rubah sial itu berpikir cepat. Dia harus memilih, apakah ia akan mati oleh pemburu itu atau ia harus kehilangan ekornya yang indah. Waktunya semakin sempit. Mungkin ia tidak akan selamat. Ia lalu menarik dan berguling-guling sehingga akhirnya ia berhasil lepas, meninggalkan ekornya yang indah dalam perangkap. Tepat sebelum anjing-anjing pemburu itu tiba, ia berlari tersaruk-saruk ke dalam hutan. Dia berlari melintasi sungai agar jejaknya tidak diikuti oleh mereka.
Rubah itu sangat bersyukur karena telah selamat dari perangkap sehingga untuk beberapa lama ia tidak begitu merasa kehilangan ekornya yang indah. Tetapi ketika ia sedang minum di sungai yang jernih, ia menatap dirinya dan menyadari kenyataan pahit. Ekornya yang indah telah hilang. Betapa aneh dan jeleknya ia tampak sekarang. Dia menggelengkan kepalanya dengan sedih. Dia membayangkan betapa binatang lain, terutama sesama rubah, akan menertawakannya. Dia lalu berlari ke hutan yang sepi dan bersembunyi di balik semak-semak yang rimbun.
Tetapi seperti layaknya seekor rubah, ia panjang akal. Setelah lama berpikir, ia merasa mendapatkan ide yang cemerlang. Ia sangat yakin dengan idenya itu.
Pagi-pagi sekali ia berjalan menuju sekumpulan rubah, kumpulan dan sepupunya. Dan sebelum mereka sempat menanyakan apa yang terjadi dengan ekornya, ia lalu berpidato.
"Kalian tentu tidak bisa membayangkan bagaimana enaknya dan agungnya kita tanpa punya ekor," katanya. Dia kelihatannya meyakinkan dan penting. "Aku tidak tahu kenapa aku bisa tahan dengan ekor yang panjang dan berat itu selama ini. Sekarang aku merasa sangat bebas dan ringan tanpanya. Benar-benar sensasi yang luar biasa!"
"Tapi apa yang terjadi dengan ekormu?" tanya seekor rubah dengan terkejut.
"Apa yang terjadi?" ulang si rubah muda itu. "Tentu saja aku memotongnya! Ekor itu terlalu panjang dan terlalu berat, dan selalu terseret seret di tanah membawa debu. Aku untuk pertama kalinya merasa sangat nyaman, dan aku menyarankan agar semua mengikutiku membuang ekor konyol itu selamanya!"
"Dan kamu mengira kita harus percaya bahwa kamu benar-benar memotongnya?"
seekor rubah tua bertanya dengan pelan.
"Kenapa tidak?" jawab si rubah muda dengan nada tinggi. "Benda yang mengganggu itu selalu saja tersangkut pada sesuatu, dan ..." Pada saat itu nenek rubah yang sudah tua tertawa terbahak-bahak. Dan dengan sekejap semua rubah yang lain tertawa bersamanya, semakin keras dan semakin keras. Rubah muda itu tidak tahan lagi, dan jika ia masih punya ekor, sudah pasti ekornya akan ia jepit diantara kakinya ketika ia berlari pergi masuk ke dalam hutan.
"Penderitaan," kata seekor rubah tua yang bijak - walaupun yang lain masih tertawa terbahak-bahak dan tidak mendengarnya - "Orang yang menderita senang ditemani."

Pesan dari cerita ini adalah : janganlah berbohong hanya untuk menutupi kekurangan kita.

Terjemah bebas dari : The Fox Who Lost Her Tail, Richards Topical Encyclopedia. 1951

Sumber : Fasabbih.blogspot.com

Singa yang Sekarat

Tidak ada yang tahu bagaimana berita itu bisa tersebar, tetapi semua binatang sekarang membicarakannya. Singa sedang sekarat, dan dia ingin semua rakyatnya menjenguknya dan mendengarkan warisan apa yang akan diberikannya pada mereka nanti. Sang rubah, yang selalu hadir ketika ada yang diberikan cuma-cuma, cepat-cepat pergi ke sarang singa lebih cepat daripada binatang lain. Tetapi ketika ia semakin dekat, dia berjalan lebih lambat. Dia sedang berpikir, dia berpikir keras.
Ketika ia sudah sampai di depan mulut gua tempat tinggal singa, dia tidak jadi masuk, malah bersembunyi di balik semak dan memperhatikan apa yang akan terjadi. Dia tidak perlu menunggu lama. Lima menit kemudian datang seekor kambing muda, dia berjalan cepat-cepat sepertinya tidak mau terlambat masuk ke dalam gua.
Rubah itu diam dan menatap pintu gua dengan mata bulatnya yang tajam. Dia ingin tahu hadiah warisan apa yang diperoleh si kambing muda itu, atau mungkin wasiat apa yang diperolehnya dari singa yang sedang sakit itu. Ternyata dia harus menunggu lama, karena si kambing ternyata tidak juga kembali.
Beberapa lama kemudian seekor lembu datang dan seperti si kambing tadi, dia buru-buru masuk ke dalam gua. Ternyata dia juga tinggal lama di dalamnya.
Dalam satu jam ada seekor keledai, seekor biri-biri, dan dua ekor kelinci yang menghilang ke dalam gua, dan semuanya diamati oleh si rubah. Satu jam lagi dia menunggu, lalu si rubah berpikir bahwa singa itu mungkin sudah tidak ada tamu lagi hari ini. Ketika ia hendak beranjak pergi, betapa terkejutnya ia ketika melihat sang singa muncul di pintu gua dan menyapanya dengan berwibawa.
"Masuklah! Masuklah, kawanku rubah!" singa itu memanggilnya. "Aku punya beberapa pesan untukmu!"
Rubah menggelengkan kepalanya.
"Jika anda tidak berkeberatan tuanku!" jawabnya, "Aku akan menunggu besok saja. Dari jejak kaki yang masuk ke dalam pondokmu, aku lihat banyak rakyatmu yang sedang mengunjungimu. Aku tidak tahan keramaian, dan sebelum mereka keluar, aku akan mengunjungimu lain kali saja."
Singa itu mengaum, lalu menerjang ke arah rubah, mengejarnya hingga beberapa lama. Tetapi singa itu tidak bisa menangkapnya - karena dua alasan. Rubah sudah lari lebih dulu, dan perut singa itu sudah terisi penuh dengan kelinci, biri-biri, kambing, lembu, dan keledai sehingga dia tidak bisa berlari cepat. Akhirnya ia berhenti kelelahan dan berbaring seharian di semak semak dengan perut kenyang.

 

Pesan dari cerita ini adalah : berhati-hatilah, selalu periksa kebenaran berita yang kita dengar.

 

Terjemah bebas dari : The Dying Lion, Richards Topical Encyclopedia. 1951

 

Sumber : Fasabbih.blogspot.com

Harta Tersembunyi


Udara terasa dipenuhi dengan aroma manis anggur dan barisan tanaman dipenuhi dengan kumpulan buah anggur. Tempat ini benar-benar ladang anggur yang indah. Anggurnya berwarna ungu bulat dan tampak ranum.
"Bagaimana kalian bisa menumbuhkan tanaman anggur yang begini bagus?" tanya seorang petani dari lembah sebelah kepada tiga orang kakak beradik yang sedang bekerja di ladang anggur itu.
Yang paling tua dari mereka lalu berhenti sejenak dan menjawab, "Ketika bapak kami sedang sakit parah, beliau memanggil kami dan mengatakan bahwa ladang anggur ini adalah milik kami bertiga. Beliau berjanji bahwa jika kami bekerja keras, kami akan mendapatkan harta karun yang terkubur di dalam tanah di antara tanaman-tanaman anggur."
"Untuk beberapa lama," kata saudara yang kedua menambahkan, "kami bekerja siang dan malam dengan sekop kami sehingga kami telah membalikkan semua tanah di ladang kami."
"Dan kemudian," si bungsu melanjutkan,"kami memperhatikan ternyata tanaman anggur kami yang sebelumnya pendek dan penuh semak semak menjadi tumbuh lebih kuat setiap harinya, dan buahnya menjadi lebih manis."
"Ya, ya, saya mengerti," petani itu menjawab. "Buah yang manis inilah harta karun terpendam itu."
"Kerja keras itu sendiri adalah harta karun,"
tambahnya. Dia kemudian bersandar di pagar dan memetik sebuah anggur yang ranum.

Pesan dari cerita ini adalah : nasihat dari orang tua sering kali tidak kita sadari kebenarannya sekarang, tetapi lambat laun kita akan mengetahui kebenarannya. Dan bekerja keras adalah satu langkah menuju keberhasilan.

Terjemah bebas dari : The Hidden Treasure , Richards Topical Encyclopedia. 1951

Sumber : fasabbih.blogspot.com

Rubah dan Burung Gagak

Seekor burung gagak menatap seekor rubah di bawahnya dengan matanya yang bulat hitam seperti kelereng. Dia mengamatinya ketika rubah itu berusaha menerjang naik ke atas pohon tempatnya berada, sambil bersuara ribut. Burung gagak yang lain menyadari bahaya itu di atas dahan yang lebih tinggi, mereka lalu berkaok ribut. Tetapi si burung gagak itu sama sekali tidak bersuara. Ternyata paruhnya sedang memegang erat sebongkah keju besar berwarna kuning.
Rubah itu akhirnya menyadari ia tidak mungkin bisa menangkap burung gagak itu, lalu dengan kelihaiannya ia berupaya mendapatkan keju itu dengan tipu muslihat, cara yang kesukaannya.
"Oh sayangku, gagak kesayanganku!" rubah itu merayu dengan lembut.
"Oh si cantik dari hutan belantara, kau lebih kuat daripada burung elang, kau terbang lebih anggun daripada burung layang-layang, bulu-bulumu bersinar lebih cemerlang daripada merak. Tetapi sayang..." dia menambahkan dengan sedih, "walaupun engkau telah memiliki semua pesona itu, tetapi engkau tidak bisa bicara."
Mata burung gagak itu bersinar senang mendengar semua rayuan rubah, tetapi kata-kata terakhirnya membuatnya jengkel. Apa maksudnya bahwa ia tidak bisa bicara?
"Mungkin semua itu salah," kata si rubah menenangkannya. "Mungkin si burung bulbul yang menyebarkan kabar itu karena iri dengan suara indahmu yang bisa mengalahkan suaranya di hutan ini. Nyanyikan untukku beberapa nada, gagakku sayang, dan biarkan aku mendengarkan lagumu yang indah." kata rubah itu sambil menjilat bibirnya.
Bujukan rubah licik itu tidak tertahankan oleh si gagak.
"Kaok! Kaok! Kaok!" burung gagak itu berteriak keras. Suaranya sama sekali tidak enak didengar.
Bongkah keju jatuh dari paruhnya, si rubah dengan cepat menangkapnya lalu beranjak pergi sambil berteriak, "Nah, sekarang diamlah!"
"Jika akal sehatmu separuh saja dari kesombonganmu, kamu tentu masih punya keju itu," kata seekor gagak tua pemimpin kumpulan gagak itu.

Pesan dari cerita ini adalah : jangan merasa takabur dengan sanjungan dari orang lain.

Terjemah bebas dari : The Fox and the Crow, Richards Topical Encyclopedia. 1951

Sumber : Fasabbih.blogspot.com

Rubah dan Buah Anggur


Rubah tua yang licik sedang bersedih. Sudah seharian ini dia berkeliling melintasi hutan yang lebat dan naik turun bukit, tetapi tanpa hasil. Dia tidak bisa menemukan sepotong makanan pun untuk dimakan, bahkan ia tidak bisa menangkap seekor pun tikus ladang. Dia merasakan perutnya benar benar-kosong, seumur hidupnya baru kali ini ia merasakan benar-benar kelaparan. Dan dia benar-benar merasa haus, benar-benar kehausan. Lehernya terasa terbakar.
Pada saat itulah ia sampai di sebuah tembok batu, dan di sanalah ia menemukan sesuatu yang hampir seperti keajaiban. Di sana, di depannya, ada pohon anggur yang diranting-rantingnya penuh bergantung buah anggur yang ranum, menunggu untuk dimakan. Buah anggur itu bulat berisi dan berair, udara dipenuhi dengan aroma buah anggur.
Rubah itu tidak membuang-buang waktu. Dia mengambil ancang-ancang lalu lari melompat berusaha menggapai buah anggur di ranting yang terendah dengan moncongnya yang lapar - tapi dia gagal! Dia melompat lagi, kali ini lebih tinggi. Tapi lagi-lagi dia tidak bisa mendapatkan sebuah anggur pun. Ketika ia gagal untuk ketiga kalinya, ia lalu duduk sebentar, lidahnya menjulur, matanya menatap puluhan buah anggur yang menggantung diluar jangkauannya.
Pemandangan itu terlalu menyakitkan bagi serigala yang sangat lapar itu, ia melompat dan melompat, meloncat sampai kepalanya pusing. Akhirnya ia menyadari buah anggur itu benar-benar tidak bisa dicapainya, sama seperti dia tidak bisa menggapai bintang di langit. Dengan kesal ia melangkah pergi.
"Ah, baiklah!" ia bergumam pada dirinya sendiri," lagi pula siapa yang mau makan buah anggur yang berulat itu! Buah itu masam! Masam! Aku pun tidak mau makan jika bisa mendapatkannya!"
"Ha Ha!" seekor burung gagak tertawa. Dia mengamati tidak jauh dari sebuah pohon. "Coba beri dia seikat buah anggur itu, dan kamu bisa lihat apakah mereka benar benar masam."

Pesan dari cerita ini adalah : seringkali orang yang tidak berhasil hanya berkeluh-kesah, dan menyalahkan yang lain untuk kegagalannya.


Terjemah bebas dari : The Fox and the Grapes , Richards Topical Encyclopedia. 1951

Sumber : fasabbih.blogspot.com

Serigala dan Anjing Pak Tani


Ladang-ladang berkilauan oleh gemerlapnya cahaya salju ketika seekor serigala kurus merangkak perlahan-lahan tanpa suara di dalam lahan pertanian. Anjing Pak Tani meringkuk di kandangnya yang hangat mengamati penyusup itu mengendus-endus mencari makanan.
"Hai!" akhirnya ia berkata, ketika serigala itu mengendus-endus terlalu dekat dengan pintu kandang ayam.
"Kenapa kamu kelihatan sangat gemuk dan sejahtera?" serigala itu bertanya, mendekat ke kandang anjing. "Kamu kerja apa?"
"Oh, aku mengusir pencuri!"
kata Anjing Pak Tani dengan berwibawa, "dan aku pergi berburu dengan tuanku, dan aku menjaga anak-anaknya."
"Akupun bisa melakukan itu!"
jawab serigala lapar itu.
"Yah tentu saja kamu bisa," jawab Anjing Pak Tani seenaknya.
Kemudian serigala itu melihat ada tanda melingkar di leher anjing itu, di tempat itu bulu-bulunya rebah ke kulit.
"Kenapa itu?" dia bertanya sambil mengerutkan kening.
"Oh, itu!" kata si anjing dengan ringan. "Bukan apa-apa. Ini tempat rantai menggesek leherku jika mereka sedang mengekangku."
"Tidak!" kata serigala dengan kasihan, "ambil saja pekerjaan dan ranjangmu yang nyaman itu. Aku lebih baik kelaparan tapi bebas setiap hari dibandingkan harus menjadi budak walaupun makan kenyang."
Pesan dari cerita ini adalah : seenak-enaknya hidup tapi dikekang orang lain, jauh lebih nyaman hidup bebas sesuai keinginan sendiri.

Terjemah bebas dari : The Wolf and the Farmer's Dog, Richards Topical Encyclopedia. 1951

Sumber : Fasabbih.blogspot.com

Tikus Desa Pergi ke Kota


Si Tikus Desa berusaha sungguh-sungguh untuk menyenangkan tamunya, sepupunya dari kota. Dia mengumpulkan makanan terbaik yang dia punya - kacang tanah, kacang polong, gandum, dan potongan keju - dan dia menyiapkan kasur empuk dari bulu domba di tempat paling aman di dalam lubang tempat tinggalnya.
Mereka bersenang-senang dengan berlarian di ladang dan bermain petak umpet di hutan. Tapi Si Tikus Desa tetap penasaran dengan kehidupan sepupunya di kota besar.
"Ikutlah denganku dan lihatlah sendiri!" sepupunya mengajaknya pergi.
Undangan itu dengan cepat diterimanya. Mereka segera pergi, dan akhirnya sampai di sebuah rumah mewah besar tempat tikus kota itu tinggal.
"Kita tiba tepat waktu," katanya. "Aku mencium ada sebuah jamuan makan yang sedang disiapkan. Kita akan makan besar malam ini!" Hidungnya berkedut-kedut dengan semangat.
Benar-benar jamuan makan besar! Mereka bersembunyi di bawah lemari di dapur dan mereka berlarian mencicipi makanan-makanan lezat yang belum pernah dirasakan Si Tikus Desa.
Dilahapnya dengan rakus! Perutnya bahkan sudah buncit seperti bola sebelum jamuan makannya dimulai.
Akhirnya para tamu undangan datang dan pintu ke ruang makan dibuka. Tikus-tikus itu segera lari ke ruang makan memunguti remah-remah yang jatuh ke bawah meja. Tetapi ketika mereka tiba di ujung ruangan, dua ekor anjing melompat dan dengan cepat mengejar mereka.

"Cepat ikuti aku!" kata sepupunya dan mereka lari ke bawah lemari kecil ke lubang persembunyiannya.
Mereka hampir saja terlambat. Udara panas dari nafas anjing-anjing menyelubungi Si Tikus Desa, saking dekatnya ia dengan hidung anjing itu. Dia bergidik ketakutan.
"Rumahmu bagus sekali sepupu! Dan kamu sudah menyajikan untukku makanan yang lezat," katanya. "Tapi aku mau cepat pulang. Kehidupan di kota terlalu ramai untukku."
Dia lalu bergegas pergi, secepat kaki kelabunya bisa membawanya berlari.

Pesan dari cerita ini adalah : kebahagiaan dan ketentraman hidup seringkali tidak bisa diperoleh dari hidup mewah.

Terjemah bebas dari : The Country Mouse in Town, Richards Topical Encyclopedia. 1951
Sumber : Fasabbih.blogspot.com-

Si Kikir Kehilangan Emas


Pak Tani berjalan kaki di tengah hutan yang gundul, lalu ia mencapai lapang terbuka di tepi hutan. Di sana, dengan terkejut ia melihat seorang lelaki tua, menggigil kedinginan memegangi mantelnya yang compang camping di bahunya.
Rambutnya beruban tampak seperti bulu-bulu kelabu di kepalanya, jenggotnya kusam tidak dipelihara. Dengan tersedu-sedu, tangannya yang gemetar mengusap air mata yang menetes di pipinya.
Pak Tani yang baik merasa kasihan padanya dan berkata pada orang tua itu dengan ramah,"Katakan padaku kawan, apakah yang terjadi?"
"Benar-benar buruk! Mengerikan!" lelaki tua itu menjawab dan lalu menangis lagi."Aku menjual rumahku, kebunku, dan semua yang aku punya, dan emas hasil penjualannya aku sembunyikan di lubang ini. Tapi sekarang semua hilang ...hilang...hilang!" Sekali lagi air mata turun membasahi pipinya.
"Saya khawatir," kata Pak Tani, "bahwa kamu mendapatkan hukuman sebagai orang kikir. Kamu sudah menukar semua kepunyaan dan barang barangmu yang bermanfaat untuk seonggok emas yang tidak berharga, yang tidak bisa kamu makan atau pakai."
"Ini!" Pak Tani itu menambahkan. "Ini adalah sebuah batu. Kubur batu ini dan anggaplah ini adalah bongkahan emasmu! Kamu tidak akan tahu bedanya."
Pak Tani lalu berjalan meninggalkan lelaki tua itu yang masih menangis menatap lubang kosong di hadapannya.

Pesan dari cerita ini adalah : harta yang baik adalah harta yang bermanfaat. Menimbun dan menyimpan harta dengan tidak dimanfaatkan adalah perbuatan orang kikir.

Terjemah bebas dari : How the Miser Lost His Gold, Richards Topical Encyclopedia. 1951

Sumber : Fasabbih.blogspot.com

Rubah dan Ayam


Seekor rubah memasang telinganya baik-baik, memperhatikan gerak-gerik anjing Pak Tani. Kemudian pelan pelan ia berusaha merangkak masuk ke dalam kandang, berhenti sejenak sekali lagi untuk mendengarkan. Akhirnya ia berhasil masuk melalui lubang di lantai kandang, ia lalu memperhatikan kandang yang gelap itu sambil mengendus-endus.
Matanya yang tajam akhirnya bisa melihat seekor ayam betina yang sedang bertengger di atas langkan yang sempit jauh di atasnya. Ayam itu jauh dari jangkauannya.
"Sepupu ayam!" rubah itu menyapanya dengan suara yang semanis gula-gula. "Aku membawa beberapa biji bijian yang enak untukmu. Maukah kamu turun dan melihatnya?"
Tetapi ayam itu adalah ayam betina tua yang bijak. Ia telah sering melihat bagaimana ayam-ayam yang lain berhasil tertipu oleh binatang licik ini. Ia lalu berkotek, "Aku tidak sedang lapar sekarang. Terimakasih!"
Rubah berpikir sejenak.
"Ayam yang manis," kata si rubah,"Aku mendengar bahwa kamu sedang sakit dan aku ingin tahu keadaanmu. Turunlah ke sini, akan aku periksa denyut nadimu."
Tapi ayam itu masih terlalu pintar baginya.
"Betul, aku sedang sakit," ia mengakui. "Tetapi aku pasti akan mati jika aku turun dari tempat dudukku yang nyaman ini."

Pesan dari cerita ini adalah : hati-hati dengan orang yang bermulut manis.

Terjemah bebas dari : The Fox and the Hen, Richards Topical Encyclopedia. 1951

Sumber : fasabbih.blogspot.com

Kuda dan Keledai



"Tidak!" kata seekor kuda dengan tegas, dia menghentak-hentakkan kakinya seperti seorang anak yang sedang kesal.
"Tolonglah!" erang seekor keledai, berusaha berdiri dengan barang bawaan yang berat di punggungnya. "Tolong ambil beberapa bebanku, atau aku bisa mati karena beban ini."
Si kuda menjawab dengan meremehkan, "Apa urusanku harus mengangkat barang bawaanmu?"
Mereka lalu tetap berjalan, berbaris di jalan kecil yang naik turun di atas pegunungan. Si kuda berjalan dengan nyaman sambil memakan rumput-rumput yang empuk. Tetapi si keledai berjalan dengan kepala tertunduk, ekornya bergoyang-goyang mengusir kumpulan lalat yang mengganggunya. Terengah-engah ia berusaha berjalan dengan beban yang begitu berat di punggungnya.
Tiba-tiba keledai itu jatuh tersungkur. Lututnya tertindih di bawah tubuhnya yang tergeletak di tanah.
Tuannya, yang berjalan beberapa langkah di belakangnya, melihat apa yang terjadi dan dengan cepat menghampiri keledai itu. Ia melonggarkan tali yang mengikat beban si keledai dan dengan cepat meletakkannya di atas punggung si kuda. Ia lalu mengikat kaki-kaki keledai yang jatuh itu menjadi satu dan lalu menaikkan keledai di atas punggung kuda.
"Benar-benar mengerikan!" si kuda terengah-engah. "Aku tidak kuat lagi mengangkat beban dan tubuh keledai sekaligus! Jika aku tahu bakal begini jadinya, aku tadi pasti menolongnya. Tapi bagaimana aku bisa tahu akan begini jadinya?"
Pesan dari cerita ini adalah : tidak akan rugi jika kita berbuat baik. Bisa jadi kita bisa memperoleh kebaikan yang lain atau bisa jadi kita terhindar dari hal buruk.
Terjemah bebas dari : The Horse and the Donkey, Richards Topical Encyclopedia. 1951

Sumber : Fasabbih.blogspot.com

Serigala dan Burung Bangau


Kasihan Pak Serigala. Dia tersedak dan terbatuk-batuk hingga bercucuran air matanya, tetapi dia tidak bisa mengeluarkan tulang yang tertancap di tenggorokannya.
"Tolong!," terengah-engah ia memohon pada seekor burung bangau berleher panjang yang sedang memperhatikannya.
"Tolong! Sebuah tulang ada di tenggorokanku!"
Tetapi si burung bangau hanya menatapnya dengan curiga.
"Oh tolonglah!" teriak Pak Serigala dengan suara memelas kesakitan, dia megap-megap menghirup udara. "Kamu pasti dapat hadiah jika kamu mau mengambilkan tulang dari tenggorokanku!"Dijanjikan hadiah, si burung bangau itu lalu memberanikan diri mendekat. Dengan leher dan paruhnya yang panjang, ia lalu menjulurkannya ke dalam mulut Pak Serigala untuk mengambil tulang. Dengan paruhnya yang panjang dia kemudian berhasil mengambil sebuah tulang. Tulang itu tertancap dalam di dalam leher serigala.
Terengah-engah karena kesakitan, Pak Serigala mengambil nafas panjang.
"Sudah baikan sekarang! Oh, tadi itu benar-benar sakit!"
"Dan mana hadiahnya?"
burung bangau mengingatkannya, berdiri dengan tidak sabar di atas kakinya yang panjang.
Pak Serigala malah tertawa terbahak bahak.
"Burung bodoh!" dia berkata dengan suara keras. "Kamu sudah dapat hadiahmu! Bukankah sudah merupakan hadiah bagimu bahwa kepalamu kamu sudah masuk ke mulut serigala dan bisa keluar lagi dengan selamat?"
"Tapi aku sudah berbuat baik padamu!" burung bangau itu berkuak mengeluh.
"Tidak!" kata Pak Serigala. "Tidak dikatakan berbuat baik jika kamu melakukannya ingin dapat imbalan!"
Pesan dari cerita ini adalah : berbuat baiklah tanpa mengharapkan imbalan.

Terjemah bebas dari : The Wolf and the Crane, Richards Topical Encyclopedia. 1951

Sumber : Fasabbih.blogspot.com

Kelinci dan Kura-Kura


Para binatang memenuhi pinggiran jalan yang mengelilingi hutan. Hari itu ada pertandingan lomba lari antara Bung Kelinci dan Pak Kura-kura. Bung Kelinci yang lincah mencemooh Pak Kura-kura yang lamban dan berjalan pelan lalu menantangnya berlomba lari. Semua binatang sudah yakin siapa yang akan jadi pemenang lomba ini, tapi mereka tetap saja menonton pertandingan ini. Menonton para pelari itu pasti akan menyenangkan.
Di bawah jembatan di atas sungai kecil, Bung Kelinci dan Pak Kura-kura bersalaman. Mereka memulai lomba tepat setelah gagak hitam yang menjadi juri berteriak memberi aba-aba. Jauh di sana Pak Kura-kura berlari bersusah payah, berjalan terhuyung huyung dengan empat kakinya yang pendek dan gemuk. Di sampingnya Bung Kelinci melompat-lompat, berhenti setiap saat untuk mencium dan mencicipi tunas tanaman yang tumbuh di tepi jalan. 
Akhirnya, Bung Kelinci sengaja berbaring di atas tumpukan daun semanggi, hanya untuk menunjukkan bahwa ia meremehkan pertandingan ini. Akan tetapi Pak Kura-kura tetap berlari susah payah dengan lamban, setapak demi setapak.
"Hey, pertandingannya sudah mulai!" teriak Pak Kambing mengingatkan dari pinggiran jalan.
Tetapi Bung Kelinci menjawab dengan tidak sabar,"Aku tahu! Aku tahu!" Tapi Pak Kura-kura paling baru akan sampai di garis akhir di ujung hutan nanti siang!" Dia menjawab sambil membaringkan dirinya dengan nyaman lalu tertidur pulas.
Para penonton semakin heboh ketika melihat Pak Kura-kura dengan gigih tetap berjalan maju dengan lamban sedangkan Bung Kelinci masih tetap tertidur pulas. Setiap langkahnya membawanya mendekat ke garis akhir. Dengan pelan dia semakin dekat. Semua leher penonton mendongak ke arah Bung Kelinci, yang meringkuk seperti bola bulu berwarna coklat, masih tidur siang.
Waktu seperti tak ada habisnya, sampai Pak Kura-kura kemudian memanjangkan lehernya dan memandang jalanan di depannya. Hanya beberapa meter lagi, garis akhir yang harus dicapainya. Dia sudah kecapaian karena harus berjalan dengan laju tercepat yang bisa dilakukannya, tapi dia berusaha sekuat tenaga untuk lari penghabisan ke garis akhir.
Pada saat itulah Bung Kelinci terbangun! Dia melihat Pak Kura-kura hampir mencapai akhir, lalu lari cepat seperti terbang di udara. Dia berlari seperti melayang saking cepatnya. Dia bahkan terlihat hanya seperti bayang-bayang berwarna coklat.
Para burung bercuit-cuit! Singa mengaum membahana! Para penonton yang lain melompat lompat kegirangan. Mereka tidak menyangka pertandingan bisa seseru ini. Mereka berteriak riuh mendukung Pak Kura-kura yang masih berjalan lamban beberapa langkah lagi ke garis akhir sedangkan Bung Kelinci sudah sangat dekat. Sekarang sudah beberapa senti lagi dan Bung Kelinci sudah ada di belakang punggungnya.
Pak Kura-kura meregangkan lehernya panjang sekali dan menyentuh garis akhir sesaat lebih cepat daripada Bung Kelinci.
Pak Kura-kura memenangkan lomba!
Para penonton bertepuk tangan dengan riuh. Mereka mengarak Pak Kura-kura di atas punggungnya dan bernyanyi betapa baik dan bahagianya dia. 
"Pak Kelinci seperti biasa terlalu yakin pada dirinya sendiri," begitu kata seekor burung hantu kepada burung elang. "Sekarang dia harus menyadari bukan hanya lari cepat yang bisa memenangkan lomba."

Pesan dari cerita ini adalah : yakin pada diri sendiri itu baik, tetapi kemudian menjadi sombong adalah perbuatan yang buruk.

Terjemah bebas dari : The Hare and the Tortoise, Richards Topical Encyclopedia. 1951

Sumber : Fasabbih.blogspot.com

Teman-Teman Pak Kelinci

Tidak ada seekor binatang pun yang menganggap Pak Kelinci sombong, bahkan banyak sekali binatang yang memanggil Pak Kelinci sebagai sahabat terbaik mereka. Pak Kelinci sangat bangga karenanya.
Pada suatu pagi hari yang cerah, dia ingin bertemu sebagian dari anaknya yang berjumlah dua ratus ekor. Dia bangun pagi sekali dan berjalan dengan riang di hutan, tapi tiba-tiba sebuah ranting besar menimpanya dan melukai sebelah kaki belakangnya.
Lukanya tidak parah, tapi ada satu alasan yang membuatnya khawatir. Besok para penduduk desa akan datang ke hutan untuk berburu dengan membawa anjing pemburu, untuk bisa melepaskan diri dari mereka ia harus waspada dan sigap. Dia berjalan tertatih-tatih beberapa langkah dan kemudian terduduk, ia menggaruk telinganya yang panjang. Sesuatu pasti ada yang salah, pikirnya.
"Kenapa?" tanyanya sambil menggoyangkan hidungnya, "Kenapa aku harus lari setiap kali bertemu anjing pemburu? Benar-benar menggelikan!" Dia menunjuk dirinya sendiri dan berkata lagi, "Dan aku akan melakukan sesuatu untuk itu!"
Dia bangkit dan berjalan terpincang-pincang sampai ke sebuah lapangan rumput tempat sahabatnya Pak Kuda berada.
"Selamat pagi, Pak Kuda kawanku!" katanya. "Aku sedang dalam kesulitan. Besok, kau pun tahu, adalah hari berburu. Dengan kakiku yang terluka ini, aku kesulitan melarikan diri dari kejaran anjing pemburu. Bolehkah aku naik ke punggungmu esok hari?"
"Kamu tentu tahu aku akan mengijinkannya," kata Pak Kuda. "Tetapi besok aku harus kerja seharian dengan majikanku. Tapi tentunya hal itu tidak membuat orang baik sepertimu khawatir. Kamu pasti akan dapat banyak pertolongan. Aku yakin sekali!"
Pak Kelinci berterimakasih padanya lalu pergi ke tempat lainnya. Kakinya sakit sekali, dan dia lega ketika akhirnya bertemu dengan Pak Kerbau. Tanpa beristirahat dulu, dengan segera ia menceritakan kisahnya.
"Dengan tandukmu yang tajam, kamu dapat menghadang sekumpulan anjing pemburu, bahkan menakuti para pemburunya sekalian," katanya.
"Ya, tentu saja aku dapat melakukannya dengan mudah!" jawab Pak Kerbau. "Sayangnya, aku telah berjanji pada kawanku, aku akan mengunjungi keluarganya besok."
"Aku mengerti," jawab Pak Kelinci cepat. "Sudahlah, jangan dipikirkan."
"Aku lihat kawanmu si Kambing gunung beberapa hari yang lalu," saran Pak Kerbau. "Dia mungkin dengan senang mau menolongmu."
Butuh waktu yang lama untuk menemukan Pak Kambing, tapi akhirnya Pak Kelinci berhasil menemukannya lalu mengulang lagi kisahnya.
"Kamu tentu tahu bagaimana perasaanku terhadapmu," kata Pak Kambing. "Semua akan aku lakukan untuk orang baik sepertimu. Tetapi sejujurnya, aku sedang merasa tidak enak badan sehingga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sendiri tidak tahu kenapa." Dia berkata sambil mengelengkan kepalanya yang besar berbulu. "Mungkin karena sesuatu yang kumakan."
Sampai sore harinya menjelang senja, Pak Kelinci sudah mengunjungi Pak Keledai, kawan lamanya Pak Lembu, dan bahkan dia bertemu Pak Beruang yang dahulu nyawanya pernah diselamatkannya. Semuanya berkata ingin menolongnya, tetapi tampaknya mereka sedang sangat sibuk lebih dari biasanya.
Pak Kelinci berjalan tertatih-tatih ke rumahnya. Ketika malam tiba dia dikelilingi anak-anaknya yang berkumpul disekelilingnya. Hari itu dia mendapat pelajaran dan pengalaman pahit, dan ia ingin menyampaikan pada seluruh keluarganya.
"Jika kalian ingin tahu teman macam apa yang kalian punya," Pak Kelinci berkata pada anak-anaknya. "Cobalah meminta pertolongan dari mereka. Maka kalian akan tahu jawabannya."

Pesan dari cerita ini adalah : seorang kawan sejati pasti mau menolong ketika kita dalam kesulitan.


Terjemah bebas dari : The Hare with Many Friends, Richards Topical Encyclopedia. 1951
Sumber : fasabbih.blogspot.com

Gagak yang Sombong

Di sebuah lapangan di tepi hutan, seekor burung gagak tua membungkus dirinya dengan bulu-bulu burung merak yang indah dan dia berjalan berkeliling pamer kepada burung gagak yang lain. Sebenarnya dia malah terlihat sangat lucu, karena bulunya yang hitam legam masih terlihat dibalik kostum bulu meraknya. Tetapi dia tetap berjalan angkuh dengan bangga dan memandang teman-temannya yang menonton dengan merendahkan. Burung yang sombong itu bahkan mematuk teman-temannya yang berani datang mendekat.
"Tukang tipu!" teriak burung gagak yang lain sambil terbang ke dalam hutan.
 Burung gagak tua itu yakin dia secantik burung merak, sehingga ia lalu mendekati sekumpulan burung merak yang sedang berjemur. Dia berpura-pura menjadi burung merak lalu memberi salam pada mereka. Tetapi para burung merak itu tidak tertipu. Mereka melihat bulu burung gagak yang hitam dibalik bulu warna warni. Mereka sangat marah pada kelancangannya sehingga ramai-ramai menghampirinya. Mereka berteriak dan mematukinya tanpa ampun, kostum warna warni gagak itu hancur tercabik cabik.
Kecewa dan sedih, si gagak mencari teman untuk menghibur hatinya. Tetapi teman-temannya juga sudah sangat kecewa padanya.
"Tidak! Tidak!" teriak mereka.
"Jangan kembali lagi pada kami. Kamu sudah memutuskan untuk menjadi burung merak. Sekarang kamu terima akibatnya." Mereka meneriakinya hingga ia terbang jauh.
Burung malang itu sekarang tidak punya teman. Dia dihukum karena berpura pura menjadi orang lain, dan bahkan mencibir teman temannya yang sederajat.

Terjemah bebas dari : The Vain Jackdaw, Richards Topical Encyclopedia. 1951

Pesan dari cerita ini adalah : jadilah dirimu apa adanya. Jangan bersikap sombong, tinggi hati, dan ingin merasa lebih baik dari yang lain dengan merendahkan mereka.

Rusa yang Terluka

Jauh di dalam hutan, tersembunyi di balik semak-semak yang lebat, berbaring seekor rusa, hampir mati kelaparan. Seorang pemburu menembaknya, dan dia berjalan terpincang-pincang melarikan diri ke dalam hutan. Lalu dia beristirahat di atas sekumpulan rumput manis. Akan tetapi seekor kelinci menemukan persembunyiannya dan karena kasihan lalu dia sering datang menengoknya. Kelinci itu bahkan memberitahukan kepada penghuni hutan yang lain tentang rusa yang terbaring di rerumputan manis, sakit dan kesepian. Akhirnya semakin lama semakin banyak teman datang menjenguk.
Hal ini sangat menyenangkan untuk rusa, dia suka ditemani. Tetapi, ternyata... yang datang menjenguknya hanya teman yang suka makan rumput manis! Rumput manis itu segera habis, karena dimakan oleh kelinci- kelinci dan kambing kelaparan yang memakannya sampai ke akar-akarnya.
Ketika rusa itu terbaring di tanah gundul, seorang petani kebetulan lewat dan mendengar rintihan si Rusa. Dia menyibakkan semak semak dan menemukannya.
"Apa kesulitanmu, kawan?" Petani itu bertanya.
"Aku kelaparan!" jawab si Rusa."Kawan kawanku yang datang menjenguk telah memakan semua makanan."
"Saya akan memperingatkan mereka semua!"
seru Petani. "Kamu harus memperhatikan mana kawanmu yang hanya sayang pada perut mereka." Kemudian dia pergi mengumpulkan banyak rumput di hutan dan membawanya kembali ke tempat si Rusa.
"Makanlah, semoga cepat sembuh."

Terjemah bebas dari : The Wounded Stag, Richards Topical Encyclopedia. 1951

Pesan dari cerita ini adalah : ada "teman" yang hanya peduli dengan dirinya sendiri. Carilah teman yang baik yang tetap menjadi teman di saat senang dan susah.

 

Sumber : http://fasabbih.blogspot.com/2012/11/rusa-yang-terluka.html

Tupai dan Raja Hutan

Sepanjang hari ini, seekor tupai abu-abu kecil melompat kesana kemari menggoyangkan kacang agar jatuh dari pohonnya. Di puncak pohon dia bersiap-siap, kemudian dia melompat ke udara. Tapi dia tidak bisa menjangkau dahan pohon lainnya. Dia jatuh berguling-guling ke tanah di bawahnya.
Di bawah pohon itu ternyata ada seekor singa yang sedang tidur siang di bawah bayang bayang. Dia telentang dengan nyaman dan tidur mendengkur. Tiba-tiba dia merasakan ada yang jatuh di atas kepalanya. Si raja hutan segera melompat dan cakarnya dengan cepat menjepit ekor tupai.
Tupai gemetar ketakutan.
"Oh Sang Raja Hutan!" Tupai itu menangis. "Jangan bunuh aku! Semua ini tidak disengaja."
"Baiklah kalau begitu," gumam singa. Ternyata dia memang tidak bermaksud menyakiti si Tupai.
"Aku akan melepaskanmu. Tetapi kamu harus memberitahu aku apa yang membuat kamu selalu bergembira. Aku adalah raja hutan ini, tetapi saya jarang sekali merasa gembira."
"Tuanku yang mulia," cicit si Tupai. Dia melompat ke dahan yang rendah.
"Sesungguhnya aku punya hati nurani. Aku tidak membunuh binatang lain. Aku hanya mengumpulkan kacang untuk diriku dan keluargaku, dan tidak pernah menyakiti yang lain. Tetapi anda berkeliling hutan untuk memangsa dan menghancurkan. Anda membenci sedangkan aku menyayangi. Akibatnya anda merasa tidak bahagia dan saya gembira."
Dengan menggoyangkan ekornya yang indah ia menyelinap pergi di antara ranting pohon, meninggalkan sang Raja Hutan yang sedang merenung.

Pesan dari cerita ini adalah : cukup jelas bukan? Menyakiti orang lain akan membuat hidup tidak bahagia. Berbuat baik akan membuat hidup bahagia.

Terjemah bebas dari : The Squirrel and the Lion, Richards Topical Encyclopedia. 1951

Sumber : Fasabbih.blogspot.com

Singa dan Gajah

Tidak ada seorang pun di hutan yang ingat sejak kapan singa menjadi raja mereka. Dia selalu lebih kuat dan lebih berani dan tentu saja lebih tampan daripada semua rakyat binatang di kerajaannya. Banyak sekali binatang yang mau memberikan apa saja agar sang Raja Hutan mau menjadi kawan akrabnya. Akan tetapi dia sudah lebih dulu memilikinya, kawan yang selalu bersamanya, yaitu gajah.
Setiap kali singa berkeliling hutan, dia selalu ditemani gajah, dan walaupun makanan mereka berbeda tapi mereka makan bersama. Kenapa singa menghabiskan banyak waktunya yang berharga dengan gajah? Tak ada seekor binatang pun yang tahu, dan mereka sedikit pun tidak suka itu.
Suatu hari, singa mengajak gajah untuk menemaninya berburu selama dua minggu penuh. Binatang-binatang hutan yang lain kemudian berkumpul untuk membicarakan hal itu. Rubah, yang yakin dia paling pintar di antara semua binatang, memulai pembicaraan.
"Jangan pikir aku iri pada si gajah yang lamban dan kikuk itu!" katanya.
"Tetapi apa yang dilihat singa dari dirinya? Jika si gajah memiliki ekor yang indah seperti diriku, aku baru mengerti kenapa ia yang dipilih menjadi kawan akrabnya!"
Dia menggoyangkan ekornya dengan anggun untuk memperlihatkan kepada binatang yang lain apa yang ia bicarakan, rubah selesai berbicara dan kemudian duduk.
Si Beruang hanya mendengarkan sekenanya saja pembicaraan rubah, ia lalu berdiri dan menggelengkan kepalanya. Pembicaraan tentang gaya si Rubah membuatnya jengkel.
"Jika si gajah memiliki cakar yang tajam dan panjang sepertiku, baru aku mengerti kenapa singa suka padanya!" dia berkata pada mereka.
"Atau jika dia punya tanduk yang menjulang seperti punyaku!" Lembu memotong pembicaraan. "Aku tidak akan menyalahkan singa untuk menyukainya!"
"Jangan bikin aku tertawa!" kata si keledai.
"Semua hal ini sudah jelas, singa suka pada gajah karena telinganya yang lebar. Itu saja!"
"Lihat binatang binatang itu suka menyombongkan dirinya sendiri!" kata si bebek kepada istrinya. "Tetapi binatang yang tidak bisa bicara membebek, pembicaraannya hanya omong kosong."       

Pesan dari cerita ini adalah : tidak baik menyombongkan kelebihan diri sendiri saja, dan hanya melihat kekurangan pada orang lain.

Terjemah bebas dari : The Lion and the elephant, Richards Topical Encyclopedia. 1951

Katak hendak jadi Lembu

Lembu tua, tinggi besar dan gemuk, tidak sengaja menginjak seekor katak kecil. Katak gepeng terinjak di bawah tapaknya yang besar. Saudara-saudara si katak itu lalu segera berlompatan ke dalam kolam untuk memberitahukan ibunya apa yang telah terjadi.
"Oh Ibu! Lembu itu sangat besar!" mereka berkata. "Lebih besar dari apa pun yang pernah kita lihat!"
"Apakah sebesar ini?" Ibunya bertanya pada anaknya yang paling kecil, kemudian dia menarik nafas panjang dan segera menahan nafasnya. Tubuhnya mengembang seperti balon besar.
Mata katak-katak muda itu bulat terbelalak dengan kagum melihat ibunya, tetapi mereka menjawab, "Lebih besar Bu! Lebih besar lagi! Lembu itu lebih besar dua kali daripada ini!"
"Tentunya tidak lebih besar dari ini bukan?" Ibunya berkata sambil mengembangkan tubuhnya sekali lagi.
"Lebih besar lagi Bu!" mereka menjawab serentak.
"Sebesar ini?" Dia bertanya lagi, dan dia menarik dan menahan nafas lagi lebih dalam sampai wajahnya menjadi biru.
"Ya! Ya! Lebih besar lagi!" teriak si kecil.
Si ibu katak itu merasa direndahkan karena jawaban anak-anaknya. Dia beristirahat sejenak. Lalu dia menarik nafas lagi, jauh lebih dalam lagi. Tubuhnya menggelembung lagi lebih besar dari yang tadi, lalu tiba tiba terdengar suara letupan keras seperti balon pecah.
"Oh Ibu!" kata seorang anak katak dengan sedih. "Kenapa Ibu mengira dia bisa membuat dirinya sebesar lembu?"

Terjemah bebas dari : The Frog Who Would Outdo the Ox, Richards Topical Encyclopedia. 1951

Pesan dari cerita ini adalah : kemampuan setiap orang berbeda beda. Berusahalah sekuat tenaga tapi harus disadari bahwa kemampuan orang ada batasnya.

Sumber : Fasabbih.blogspot.com